Jika mendengar kata “balas dendam”, pikiran kita akan langsung terkoneksi pada suatu hal yang bukan saja buruk, tetapi juga [dilatarbelakangi] peristiwa yang tidak menyenangkan. Namun, jika dikelola dengan baik, “balas dendam” ternyata bisa menjadi ajang pembuktian sekaligus saluran berkat bagi sesama yang membutuhkan.

Seorang perempuan muda bernama Intani Yessy Kristina membuktikan hal tersebut. Perempuan yang akrab disapa Intan ini mendirikan brand “NOM Indonesia”, sebuah usaha suvenir yang unik dan one of a kind di kota Gudeg. Siapa sangka, keberhasilannya sebagai juragan suvenir ini bermula dari keinginan untuk “balas dendam”?

 

“Titik balik saya ingin mandiri dalam bekerja dan berwiraswasta terjadi ketika ayah saya dirumahkan oleh salah satu perusahaan tekstil terbesar di Indonesia.

Masa di mana saya sangat membutuhkan biaya untuk kuliah. Sejak saat itu saya seperti ‘dendam’ dengan perusahaan. Ternyata perusahaan besar dan bonafide tidak menjamin keberlangsungan hidup bisnisnya, apalagi nasib karyawannya.”

 

Melalui peristiwa tersebut, Intan berkomitmen bahwa ia harus mencoba berwirausaha, entah tetap berstatus karyawan atau full time entrepreneur. Ia berharap bisa mandiri dan mampu menopang ekonomi keluarga tanpa bergantung sepenuhnya pada perusahaan.

“Kalaupun saat itu saya bekerja kantoran, motivasi utamanya adalah mempelajari sistem untuk diadopsi nantinya dan yang pasti untuk mengumpulkan modal,” kata Intan saat diwawancara online.

 

Selesai berancang-ancang untuk berwiraswasta, faktor apa saja yang membuat Intan makin mantap menjadi seorang enterpreneur? Tiga hal ini dapat menjadi jawabannya:

 

 

1. Dukungan dari Keluarga

Yang menarik adalah, ayah Intan tidak menyetujui keputusan Intan untuk resign dan berwirausaha. Pengalaman tiga tahun malang melintang bekerja di beberapa perusahaan di Yogyakarta sebagai akunting, ditambah dengan gelar profesi Akuntan yang telah digenggam Intan membuat sang ayah menyayangkan keinginan putrinya tersebut.
Namun, niat perempuan lulusan Universitas Gadjah Mada Yogyakarta ini makin tidak terbendung setelah menggenggam restu dari calon suami dan ayah mertuanya. Bahkan ayah mertuanya meyakinkan Intan bahwa ia akan memiliki usaha yang layak diperjuangkan dan mampu memberkati orang banyak.
“Kata ayah mertua saya, ‘Gusti ora bakal negake’.

Tuhan tidak akan tega melihat anak-Nya yang mau berjuang dengan kesungguhan hati.

Saya aminkan doa dan kebenaran kata-katanya,” kata Intan.

 

 

2. Memiliki Konsep Usaha yang Jelas

Sejak awal, Intan dan suami memiliki impian untuk membuat NOM sebagai salah satu brand suvenir yang tidak pasaran.
“Pada dasarnya, kami berdua tidak suka memakai produk yang disamai oleh banyak orang. Intinya adalah MENJADI BERBEDA dengan yang lain, meski kadang terlihat aneh dan tak lumrah.
Nah, NOM Indonesia ini melayani produksi souvenir berbahan kain sesuai dengan selera dan kebutuhan customer, bahasa kerennya PERSONALIZED, baik dari sisi model, bahan, design, dan motif kain,” urainya panjang lebar.
Intan pun berusaha memfasilitasi aneka permintaan customer. Bahkan, pernah ada juga yang memintanya untuk menyesuaikan harga dengan budget yang dimiliki oleh customer. Selama keinginan tersebut masuk akal, dengan senang hati Intan akan melayani.
Dengan bantuan fasilitas media sosial, khususnya Instagram dan Facebook, Intan pun semakin luwes bergerak memperbesar usahanya.
Hal yang tidak kalah penting, perempuan kelahiran 2 November 1985 ini memiliki mindset bahwa ia hanya bertugas sebagai PENGELOLA, dan owner perusahaan adalah TUHAN.
“Jika Tuhan merasa ada yang tidak beres dengan kinerja saya lewat usaha ini, maka saya harus siap jika sewaktu-waktu izin pengelolaan harus ditarik. Oleh karena itu, saya harus mengusahakan yang terbaik,” ujarnya mantap.

 

 

3. Melakukan Semua untuk Tuhan

Intan merasa harus memberdayakan dirinya semaksimal mungkin, meskipun ia mengatakan bahwa NOM terlahir dari proyek iseng-iseng. Bermodal seadanya, seiring dengan berjalannya waktu Intan mulai melihat bahwa fasilitas mesin dan aset untuk mendukung kelancaran usaha sudah mulai bertambah.
“Bukan karena saya jago menjalankan bisnis, tapi semua karena belas kasih Tuhan. Ternyata saya bisa berdiri selama hampir tiga tahun ini dari usaha yang dikerjakan, tanpa mengandalkan gaji kantoran yang diterima bulanan.
Selama saya fokus pada Tuhan dan fokus dengan apa yang dikerjakan dan cita-citakan, Ia tidak pernah berdiam. Penyertaan Tuhan sangat luar biasa. Click To Tweet
Berwirausaha adalah proposal doa yang saya ajukan sejak awal kuliah yaitu tahun 2003 dan baru di-approve di tahun 2015, itu pun karena nekat resign dari pekerjaan dan membawa setiap kenekatan saya di dalam doa.”

 

Intan memiliki dua moto dalam bekerja. Yang pertama, ia belajar untuk tidak gampang kecewa, meskipun hasilnya tidak sesuai dengan harapan dan segala daya upayanya. Kedua, Intan belajar untuk tidak bersungut-sungut.

Perempuan berparas manis yang gemar menjahit ini berpesan kepada generasi zaman now:
Kalau punya mimpi dan cita-cita yang memberkati banyak orang, segeralah action, jangan cuma sibuk menulis caption. Karena Tuhan selalu bersama dengan creativepreneur. Click To Tweet

 

 

 

***

Untuk fRRiends yang tertarik dengan produk NOM Indonesia,

NOM Indonesia dapat dihubungi via:

Instagram: @tjahnom

Facebook: NOM Indonesia

 

Alamat workshop via gMaps: NOM Indonesia

 

Intani Yessy Kristina dapat dihubungi via:

Instagram: @intanintani

Facebook: Intani Yessy Kristina

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here