Beberapa hari lalu seorang pemuda datang ke rumah menemui saya untuk curhat tentang pacarnya. Ia bingung, mengapa sang pacar berubah drastis beberapa waktu ini setelah mereka menjalani hubungan, kurang lebih enam bulan.

Dari ceritanya, saya menangkap ada sinyal-sinyal ‘ingin putus’ yang sedang dikirimkan oleh sang pacar. Menolak diajak jalan berdua, sering marah tanpa alasan yang jelas, tidak membalas chat secepat dulu, itu sedikit dari beberapa perilaku membingungkan sang pacar yang diceritakannya. Ditambah lagi, alasan-alasan yang dikemukakan sang pacar, menurutnya sering kali terkesan hanya dibuat-buat saja.

Saat itu, saya hanya mengatakan kepadanya agar ia bersiap diri untuk menerima berita buruk beberapa hari ke depan.

Benar saja! Selang dua hari, sang pacar minta putus.

Karena khawatir, saya pun menghubungi pemuda tersebut untuk menanyakan kabar. Ia mengaku lega telah mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. “Baguslah kalau ia baik-baik saja,” pikir saya. Itu berarti dia mendengar nasihat saya untuk mempersiapkan diri menerima kenyataan pahit tentang hubungannya.

Semalam berlalu, pemuda itu menelepon saya dan meminta waktu bertemu. Di sudut sebuah cafe, tumpahlah segalanya.

Ia tidak mengerti apa yang sedang terjadi dengan dirinya. Ia merasa begitu tersiksa. Rindu yang amat hebat melandanya, ia butuh kembali menjalin hubungan dengan mantan pacarnya. Ia mengaku belum bisa menerima diputus dengan alasan yang tidak jelas. Ia tidak bisa bertahan dengan keadaan tanpa komunikasi dengan mantannya. Tidak ada chat, apalagi telepon. Ia tidak bisa tidur. Pikiran dan perasaannya terus menerus mengerjainya tanpa henti.

Saya tidak hendak menulis tentang kiat-kiat move on yang jitu dari pahitnya patah hati. Tulisan tentang itu banyak. Saya justru lebih tertarik dengan satu hal penting yang sering kali terluput untuk dipelajari: bagaimana cara yang baik untuk mengakhiri sebuah hubungan.

 

 

1. Jangan Berbohong

Mengapa pria atau wanita sering kali tidak dapat mengungkapkan apa yang menjadi alasan sesungguhnya mereka ingin mengakhiri hubungan?

Pertama, karena menyadari bahwa alasan itu sebenarnya tidak cukup kuat. Kedua, karena takut menyakiti hati pasangan mereka.

Ketahuilah, diputuskan hubungan dengan alasan apa pun akan terasa menyakitkan. Karena setiap alasan pada intinya hanya hendak mengatakan, “Aku tidak ingin bersamamu lagi.” Namun, tidak memberi tahu alasan yang sesungguhnya, justru menyakiti lebih lagi.

Mengatakan dengan jujur alasan sesungguhnya akan membuat mantan pasangan mengerti apa yang menjadi bagian kesalahannya. Ia bisa belajar dari kesalahan itu untuk hubungan yang lebih baik di kemudian hari.

Ini terjadi pada pemuda yang curhat dengan saya. Alasan yang dikemukakan sang mantan ketika minta putus adalah karena rasa jenuh dan sifat posesif. Akan tetapi, bagaimana bisa ia tidak merasa lebih sakit lagi ketika beberapa hari setelah perbicangan kami di cafe, ia melihat sang mantan berboncengan sambil berpelukan dengan seorang pria yang juga dikenalnya.

 

2. Jangan Menghilang Begitu Saja

Ini ekstrem kedua, mengakhiri hubungan tanpa pesan. Pergi begitu saja tanpa jejak.

Hati-hati, jangan-jangan itu bukan manusia, tapi jailangkung. Datang tak diundang, pulang tak diantar. Wkwkwk.

Pergi dalam diam. Tidak memberi alasan atau penjelasan. Menghilang begitu saja. Berharap orang yang ditinggalkan memahami sendiri. Ini menyakitkan!

Setiap manusia pada hakikatnya mencari dan membutuhkan kepastian. Menghilang begitu saja hanya akan menyisakan rasa penasaran. Sampai berapa lama seseorang harus tersiksa, hidup dengan pertanyaan-pertanyaan tanpa jawab? Selain itu, tidak adanya penyelesaian juga akan membuat rasa sakit tinggal dan menetap dalam hati.

 

3. Bertemu 

Cara yang baik untuk memutuskan hubungan adalah dengan menemui orang yang bersangkutan secara langsung.

Jangan pernah mengakhiri sebuah hubungan hanya via handphone atau chat room.

Buatlah janji untuk bertemu di sebuah tempat. Carilah suasana yang baik untuk berbincang.

Mengapa harus bertemu?

Pertama, ini adalah sebuah bentuk penghargaan terhadap pasanganmu. Komunikasi yang dilakukan melalui handphone bersifat terbatas. Komunikasi tidak sebatas bertukar kata. Agar pesan dapat sampai dengan baik, seseorang perlu juga melihat gestur dan mengenali emosi lawan bicara. Hal-hal tersebut tidak tercakup dalam percakapan via telepon.

Kedua, ingatlah:

Meski hubungan harus berakhir, bukan permusuhan yang jadi tujuan. Click To Tweet

Patah hati itu hal biasa, semua orang pasti mengalaminya. Masih ada hal-hal baik yang bisa dipertahankan, meski bukan lagi sebagai pasangan.

Ketiga, langkah ini akan membantu pasangan untuk move on dengan lebih mudah. Sebuah penyelesaian yang elegan akan sangat menolong pasangan untuk lebih mudah menerima kenyataan.

Walaupun kamu ingin segera memutuskan hubungan, jangan bersikap egois.

Jangan hanya berpikir soal bagaimana kamu dapat sesegera mungkin mengakhiri semuanya, pikirkan juga bagaimana kondisi orang yang akan kamu putuskan. Jangan hanya berpikir tentang kelegaan diri sendiri, pikirkan juga soal ia yang kamu tinggalkan dalam sakit hati.”

 

4. Jangan Mengganggu, Beri Dia Ruang

Setelah kamu berhasil mengakhiri hubungan, jangan kembali dan menggangunya lagi.

Setiap orang yang ditinggalkan membutuhkan waktu untuk memproses rasa sedih dan kehilangannya. Begitu pula dengan mantanmu. Bantu ia dengan tidak menghubunginya, setidaknya hingga beberapa bulan ke depan.

Semua hal yang perlu dibicarakan seharusnya sudah dibicarakan dalam pertemuan yang telah dilakukan. Tidak ada lagi yang perlu dijelaskan. Jika kamu merasa ada hal yang tertinggal, lupakan saja. Jangan ganggu dia.

John Gray, penulis buku Men Are from Mars Women Are from Venus, mengatakan bahwa ketika seorang pria mengalami masalah, ia akan masuk ke dalam guanya. Sedangkan wanita akan berusaha mencari teman untuk bercerita. Ini adalah proses-proses kodrati, cara masing-masing gender menghadapi dan menyelesaikan permasalahan.

Jika kamu seorang pria dan telah memutuskan seorang wanita, maka bersiaplah untuk mendengar namamu menjadi bahan perbincangan di kalangan wanita. Hanya, hargailah keadaan itu dengan tetap diam. Itu adalah cara mantanmu bertahan dan mendapat kekuatan.

Dan jika kamu seorang wanita yang memutuskan hubungan dengan seorang pria, hargailah saat-saat dia menghilang dari peredaran dan menjadi amat pendiam. Ia sedang mengumpulkan kekuatan untuk beranjak dan kembali melangkah. Jangan mengganggunya.

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here