Fase 3 adalah fase yang saat ini saya alami.

Ketika saya sudah mencoba untuk terus mengalah secara maksimal untuk menjadi istri yang baik seperti yang suami inginkan, namun perjuangan saya selalu dinilai kurang oleh suami, apa yang dapat saya lakukan? Rohaniwan menasihati saya: “Hidupmu itu pengabdian. Itu hal yang luar biasa.”

Saya tidak pernah keluyuran seperti sosialita. Saya melakukan pekerjaan rumah tangga dengan penuh sukacita dan bersyukur diberi kesempatan melayani keluarga oleh Tuhan. Bahkan waktu banyak orang mengasihani saya karena saya bekerja keras melakukan semuanya sendiri,  saya merasa  baik-baik saja. Saya bahagia bisa merawat dan memberi teladan yang baik ke anak-anak saya.  Anak-anak punya hubungan yang sangat dekat dengan saya. Mereka sangat mengasihi saya. Inilah penghiburan yang terbesar buat saya.

Ketika semua sudah saya lakukan dan suami tetap saja menganggap kurang, saya hanya bisa berdoa kepada Tuhan:

“Tuhan sudah sekian lama Engkau tidak menunjukkan pembelaan-Mu. Saat ini aku menyerah. Aku mau bahagia dalam hidupku. Kalau Tuhan izinkan aku ingin hidup berbahagia dengan suami dan anak-anak. Kalau hal itu tidak mungkin aku mau berbahagia bersama anak-anak dan Engkau saja Tuhan. Aku akan lebih melekat  lagi kepada-Mu.”

Satu lagi sabda-Nya yang menguatkan saya: “ketika Ia dicaci maki Ia tidak membalas dengan caci maki, ketika Ia menderita ia tidak mengancam, tetapi Ia menyerahkan kepada Dia yang menghakimi dengan adil.“

Saya akan terus menunggu waktu Tuhan. Saya percaya Tuhan pasti memberi kesempatan kepada saya untuk hidup bahagia.

Pelajaran hidup apa yang bisa kita petik dari ibu di Singapura yang luar biasa ini?

Pertama, meskipun kehidupannya berat, dia mencoba untuk terus bertahan.

Kedua, meskipun pernah mencoba untuk mengakhiri hidupnya, dia masih mempunyai harapan bahwa Tuhan tetap bisa diandalkan.

Ketiga, dia tidak membalas kejahatan dengan kejahatan. Dia memilih untuk tetap fokus mempertahankan keluarganya dengan kasih dan kekuatan yang datang dari Tuhan.

Kisah ibu di negara tetangga itu mengingatkan saya tentang Raja Daud yang sangat menginspirasi saya. Saat wilayahnya dibakar, harta benda dijarah, dan anak istri dibawa musuh, Daud menguatkan kepercayaan-Nya kepada Tuhan.

Saya lebih suka lagi saat Daud menganggap Sang Khalik sebagai Gembala dan dirinya sebagai domba, sehingga bisa berkata, “Tuhan adalah gembalaku, takkan kekurangan aku.”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here