Sebisa mungkin kita benar-benar tahu siapa calon pasangan kita. Baik latar belakang, serta orang tuanya. Sebab pernikahan seperti membeli rumah baru. Kita tidak hanya melihat bentuk dan keindahan bangunannya saja, tetapi juga lokasi dan lingkungannya, bukan?

Karena itu, kesiapan mental menjadi yang utama, sebelum persiapan secara finansial tentunya. 

Kedua, Pernikahan bukan akhir perjalanan hidup, tetapi awal sekolah kehidupan yang sebenarnya.

Kalau ini sekolah, maka ada proses belajar dan mengajar yang terus dilakukan. Sedangkan kehidupan adalah sesuatu yang kita jalani, dan di dalamnya ada sukacita serta masalah yang selalu datang silih berganti. Jika kita menyadari hal itu, maka tidak ada penyesalan saat badai persoalan menghantam. 

Pernikahan bukan sekedar solusi keluar dari status single menjadi menikah. Namun, sebuah proses menjadi dewasa dalam berpikir, menyelesaikan masalah, serta bijaksana dalam mengambil keputusan. Bukan berarti orang yang tidak menikah dicap sebagai orang yang tidak dewasa dan bijaksana, Tetapi, apa yang dihadapi orang menikah biasanya lebih rumit dari biasanya.

Bijaksana berarti siap mengambil sikap dari dua pernyataan berbeda. Sebagai contoh, ketika saya minta pendapat dua orang tentang kasus pemukulan tamu hotel terhadap salah satu pelayanan di hotel tersebut, maka muncul dua versi pendapat yang berbeda. Satu mengatakan, bahwa yang salah adalah tamunya, sedangkan satunya lagi berkata kalau kesalahan ada di pelayanan itu. Dua-duanya punya argumentasi kuat dan masuk akal. Nah, di sinilah kebijaksanaan kita dituntut.

Suatu pilihan tidak akan menjadi sebuah pilihan jika kita belum mengambil keputusan. Artinya, di dalam kehidupan, kita selalu dihadapkan pada pilihan-pilihan. Kiranya dua petuah di atas dapat menjadi mercusuar saat kita memilih menikah dan berkeluarga.

Semoga!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here