Syukurlah, itu bukan akhir cerita.

Syukurlah, cerita Temple tidak berakhir di perlakuan semena-mena yang diterimanya. Bersama ibunya, Temple terus berjuang. Ia mencari dan mencoba berbagai cara untuk mengendalikan diri. Akhirnya, ia bisa menemukan cara untuk menenangkan diri ketika ia sedang gelisah, marah, ataupun merasa tak keruan.

Ketika berada di peternakan sapi pamannya, ia melihat bagaimana sapi-sapi itu ditenangkan ketika akan disuntik dengan cara dijepit dari sisi kiri dan kanan. Temple tertarik untuk mencobanya. Ternyata ia menemukan ketenangan ketika dijepit seperti sapi-sapi itu. Cara yang sangat aneh buat saya dan Anda, tetapi sangat efektif untuk Temple.

Dengan dukungan dari ibunya, ia berhasil mematahkan vonis dari para ahli dan bertumbuh dewasa menjadi orang yang berarti.

Baca Juga: Saat Harimu Berantakan, Kamu Merasa Berada di Titik Terendah Kehidupan dan Kehilangan Harapan, Satu Pertanyaan Ini Mungkin Bisa Mengubah Keadaan

Semakin dewasa, Temple semakin menyadari perbedaan antara dirinya dengan orang lain. Ternyata tidak semua orang berpikir sebagaimana ia berpikir, yaitu dengan gambar. Dan ternyata tidak semua orang merasa aneh dan risi ketika hendak dipeluk, seperti yang dirasakannya hingga hari ini.

Menyadari banyaknya orangtua dan masyarakat yang masih tidak mampu mengerti orang seperti dirinya, Temple akhirnya menulis beberapa buku sebagai jembatan antara dua dunia ini.

Tiga puluh tahun yang lalu, Temple menimbulkan sensasi ketika ia menerbitkan buku pertamanya. Sebuah autobiografi yang berjudul Emergence Labeled Autistic.

Masyarakat terkejut, seorang Autis bisa menulis buku!

Untuk pertama kalinya, seorang autis menuliskan dengan jelas pengalaman dan dunianya. Di bukunya itu, ia memaparkan bagaimana rasanya menjadi seorang autis.

Lewat Temple, kita diberikan kacamata baru dalam memandang dunia. Dan lewat karyanya, dunia kita menjadi jauh lebih kaya.

Anugerah terbesar datang dalam bentuk sebuah kegilaan.

Kini, anak berkebutuhan khusus tidak harus lagi hidup dikucilkan. Kita, Anda dan saya, memainkan peran dalam menciptakan dunia yang lebih baik untuk mereka.

Mereka bisa berkarya dan juga bermimpi. Mereka bisa belajar dan berkontribusi kepada masyarakat.

Dan tahukah kamu, kemajuan dan kenyamanan yang kini bisa kita rasakan juga berkat karya dari mereka-mereka yang sering kita remehkan, bahkan tidak pandang ini?

Socrates berkata,

anugerah terbesar yang diberikan kepada umat manusia datang dalam bentuk sebuah kegilaan, yang merupakan sebuah hadiah ilahi.

Beberapa orang yang terkenal dalam sejarah yang dipercayai memiliki kecenderungan autis adalah: Jane Austen, Emily Dickinson, Hans Christian Andersen, Mark Twain, Michelangelo, Thomas Jefferson, Ludwig van Beethoven, Thomas Edison, Henry Ford, Wolfgang Amadeus Mozart, Nikola Tesla, Alan Turing, Nostradamus, dan Isaac Newton.

Dan siapa tahu, anak yang diambil ranselnya dan diejek karena cara jalan dan bicaranya yang aneh itu akan tumbuh menjadi salah satu anak autis yang terkenal, Albert Einstein.

Mari belajar bersama

untuk menghargai orang yang berbeda dari kita dan menunjukkan penghargaan, yang bahkan lebih tinggi, kepada mereka yang tidak dapat kita mengerti.

Mary Temple Grandin Ph.D – Photo credit: Colorado Women’s Hall of Fame

“Seandainya dengan sebuah sulap, autis telah dihilangkan dari muka bumi ini sejak dulu kala, maka manusia mungkin masih akan didapati duduk melingkar mengeliling tumpukan kayu api di depan sebuah gua.”

– Temple Grandin

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here