Tahun 1950.

Anna tidak mengerti apa yang terjadi dengan anaknya, Temple Grandin. Memasuki usia dua tahun, Temple masih belum bisa berbicara. Anna sudah membawanya ke berbagai dokter, tetapi mereka tidak mampu memberikan analisis yang memuaskan terhadap kondisi anaknya ini.

Mary Temple Grandin – Photo credit: Makers Woman

Bukan hanya tidak berbicara, Temple juga tidak tertawa. Tersenyum pun tidak. Ia tidak suka dipegang, apalagi dipeluk. Ia tidak suka bermain dengan anak-anak yang lain. Ia sering mematung memandang dinding lalu kemudian tiba-tiba histeris tanpa alasan.

Anna sudah mengusahakan berbagai cara untuk berkomunikasi dengan Temple, tanpa membuahkan hasil yang positif.

Saat itu, ilmu psikologi merupakan ilmu yang sedang naik daun. Anak-anak yang memiliki kelainan yang tidak dapat dijelaskan dengan ilmu kedokteran akan direkomendasikan untuk didiagnosis menurut ilmu kejiwaan.

Salah satu kesimpulan yang sering ditarik oleh para ahli psikologi terhadap anak seperti Temple adalah bahwa penyebab dari kelainan si anak itu datang dari orangtuanya. Menurut psikolog saat itu, ada penolakan yang muncul secara tidak sadar dalam diri orangtua mereka ketika mengetahui bahwa mereka sedang hamil. Penolakan bawah sadar ini akhirnya tampak lewat perilaku ‘aneh’ yang diperlihatkan oleh si anak ketika ia sudah lahir.

Ini salah orangtuanya, demikian vonis pertama.

Temple juga dibawa ke hadapan psikolog. Betapa hancur hati Anna mendengar diagnosis yang diberikan oleh sang dokter.

Ia berkata bahwa tidak ada harapan untuk Temple. Temple tidak akan pernah bisa berbicara. Lebih lanjut, dokter ini merekomendasikan agar Anna memasukkan Temple ke sebuah institusi rumah sakit jiwa.

Ia gila, demikian vonis kedua.

Berbeda. Tidak gila.

Walau Temple berbeda, Anna tahu ia tidak gila. Dan Anna juga tahu bahwa ia mengasihi Temple.

Anna tidak mau mendengarkan rekomendasi ‘para ahli’ atau menyerah pada keadaan. Ia terus berusaha untuk mengajar Temple berbicara. Dengan penuh kasih dan air mata, ia berjuang untuk Temple. Dan akhirnya, Temple pun mulai berbicara.

Di usia TK dan SD, Anna mampu mendapatkan sekolah dengan guru-guru yang memiliki kesabaran dan perhatian untuk membimbing Temple. Walau mengalami banyak kesulitan, Temple terus belajar dan berjuang.

Masa-masa SMP dan SMA merupakan masa tersulit buat Temple. Ia pernah diskors karena melempari teman-teman yang mengganggunya dengan buku-buku. Ejekan, godaan, dan tekanan dari teman-teman membuat Temple sangat menderita. Ia menghindari semua kegiatan sosial dan memusatkan perhatian pada mata pelajaran, ilmu pengetahuan.

Melihat dari jauh, Anna berjuang setiap hari, melawan naluri untuk mengintervensi dan melindungi Temple. Walaupun tidak selalu mampu mengerti Temple, ia tahu pergumulan dan kesulitan Temple.

Sebagai ibu, Anna terus mengeraskan hati untuk membiarkan Temple mengalami jatuh bangun. Anna mengerti bahwa semua ini perlu Temple hadapi sejak kecil, agar ketika ia dewasa nanti, Temple mampu bertahan terhadap kerasnya kehidupan dunia.

Baca Juga: Untuk Bagian Terberat dari Seorang Ibu Ini, Akan Menyerahkah Engkau, Mama?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here