Sejak saya menulis tentang Ahok di detik.com, seword.com dan ributrukun.net, nama Ahok—yang sekarang diganti BTP—tetap menyedot perhatian publik. Dalam perjumpaan saya dengan banyak orang, paling tidak ada tiga kelompok besar.

Pertama, mereka yang cuek bebek. Apa saja yang Ahok lakukan, mereka tidak peduli. Bagi mereka nama Ahok tidak berpengaruh apa-apa.

Kedua, ahokers, alias yang ngefan sama Ahok. Jumlahnya cukup banyak. Dari ratusan komentar di detik menanggapi tulisan saya, “Masihkah Anda Mengidolakan Ahok”, ternyata yang menjawab ‘masih’ cukup banyak. Mereka memberikan alasan bahwa perceraian Ahok dengan Vero adalah ranah pribadi sehingga mereka bedakan dengan ranah profesional. 

Demikian juga saat Ahok menikah dengan Puput, golongan ini tetap mengidoalakan Ahok. Urusan pernikahan kembali adalah ranah pribadi Ahok yang tidak perlu dicampuradukkan.

Ketiga, yang benci Ahok setengah mati karena dianggap melukai perasaan wanita. Mereka tidak mau membedakan antara urusan profesional dan  pribadi. “Bagi saya itu menyatu,” ujar seorang ibu menggebu-gebu. “Bagi saya, Vero justru yang perlu dibela. Dia yang teraniaya. Buktinya, Vero tidak menikah lagi,” seru ibu yang lain.

Baca Juga: BTP alias Ahok, Satu Hal yang Membuatnya Begitu Dicintai Sekaligus Dibenci

Saat Puput hamil, berita tentang Ahok ramai lagi. Tanggapan netizen pun macam-macam.

Di antara sekian banyak berita, saya memilih detikhot dari detik.com sebagai acuan pengamatan sederhana. Di antara komentar warganet, ada tiga pembagian juga.

Pertama, ada yang tetap di pihak Ahok. Paling tidak sikap ini diwakili oleh Kenzo Yanto yang menulis: “Kasihan pak ahok. Banyak yg iri dan sirik. Padahal org luar ga tahu dalamnya masalah tiap2 rumah tangga. Lagian juga itu urusan pak ahok dgn tuhan. Gw sih profesional. Urusan kerja ahok nyata bagus dan jujur bersih. Ibarat pohon yg baik menghasilkan buah2 kehidupan baik. Pohon yg buruk, buah2nya pada busuk. Tq” Bagi orang-orang macam Yanto, Ahok justru korban yang disalahin terus-menerus.

Kedua, ada yang tetap memilih berpihak kepada Vero. Rakyat Indonesia menulis: “kasihan ci vero.” Di kalangan ibu-ibu yang saya kenal, jumlah yang simpati terhadap Vero cukup banyak. Mereka beralasan, buktinya Vero sampai hari ini tidak menikah.

Ketiga, ada yang tidak mempermasalahkan Ahok cerai, tetapi berharap Ahok tetap menduda. “Sampai sekarang masih heran hok kok gak menduda saja,” tulis Herry Leonardi.

Keempat, ada yang netral dan malah terganggu dengan berita semacam ini. Sandhi85 menulis: “Bodo’ amat, g penting bgt..”

Kelima, ada warganet yang berada di tengah-tengah pusaran. Artinya dia bingung mengambil sikap. Benci ya. Rindu pun juga. “Hok, elu bagi saya benci tapi rindu. Benci krn elu gampang meretakkan rumah tangga, rindu krn elu orangnya tegas, smart dan bersih.” Demikian unggah Pangulu Damak. Damak mencoba memisahkan antara urusan pribadi Ahok dengan kinerjanya. Bagaimanapun juga, Damak merasa Ahok telah meretakkan rumah tangganya. Artinya, dia berharap Ahok tidak menceraikan Vero, apalagi menikah lagi dengan Puput. Namun, di sisi lain Damak tetap menghargai performa Ahok yang tegas, smart, dan bersih.

Baca Juga: Masihkah Ahok di Hatimu? Sebuah Pelajaran Manis Pahit Berelasi

1 COMMENT

  1. Org tega kpd perempuan yg hidup 20 th dan melahirkan 3 anak meskipun apapun salahnya mk kita tahu dia siapa … “org besar atau KERDIL”.
    terlihat dari caranya menyelesaikan meskipun cerai itu urusan pribadi dan journey of life masing2 manusia. CARANYA yg kasar dan JAHAT kpd anak2 kandung juga tdk punya otak tdk melindungi perasaan anak2nya yg tdk berdaya dan hancur hatinya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here