Ayu Anak Titipan Surga. Ini bukan film baru. Namun, saya baru nonton kemarin karena—seperti Avengers: Endgame—film ini diputar kembali khususnya di Surabaya.

”Film ini sebenarnya sudah tayang di tahun 2017 di beberapa bioskop di Indonesia. Namun kami masih terus mensosialisasikan film ini ke beberapa daerah. Dan memutarkannya di beberapa bioskop pilihan di indonesia,” ujar Bagus Hariyanto, Ketua Harian Forum Pemuda Pelopor Nasional yang juga produser film ini (detikfakta.id).

Photo credit: cgv.id

Bersama kepala sekolah yang lain, kami nobar di jaringan CGV. Meskipun wajib, kami melakukannya dengan tertib. Ternyata film yang di-back up dengan Kepres 87/2017 ini memang layak ditonton. Duduk di belakang sendiri bersama Daniel, sahabat sesama kepala sekolah, saya menikmati film yang dibintangi oleh Luthfiyah Putri, Zilla Zuliza dan kawan-kawan, termasuk Kak Seto dan Adhyaksa Dault, mantan menpora dan Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka yang mendapatkan peran kecil tapi berdampak besar sebagai endorser sekaligus infuencer andal untuk film ini.

Beberapa orang yang duduk di sekitar saya, termasuk saya, sempat berlinang airmata saat melihat Ayu—diperankan begitu apik oleh Lufhfiyah Putri—bersimpuh di kuburan ayahnya untuk mengadukan mengapa dia selalu saja di-bully oleh Evi—diperankan tak kalah apiknya oleh Zilla Zulisa.

Adegan ini mengingatkan saya pada film Habibie & Ainun saat B.J. Habibie memegang nisan istri tercinta.

Bukan hanya mengharukan, inilah pelajaran kecil pengasuhan anak di zaman modern.

Anak-anak zaman sekarang tidak butuh ceramah. Mereka butuh keteladanan.

Ada fakta mengagetkan yang disampaikan pejabat sebelum film diputar: 3 dari 4 anak pernah mengalami kekerasan. Beberapa bahkan melakukan kekerasan seksual dan perkosaan massal.

Keteladanan dalam hal apa?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here