Hampir tanpa informasi yang cukup sebelumnya, Sabtu pagi, 13 Juli 2019, pertemuan yang ditunggu-tunggu mayoritas bangsa Indonesia (saya tulis mayoritas karena pada kenyataannya masih ada sekelompok orang yang tidak ingin dan tidak berharap hal tersebut terlaksana) akhirnya terjadi juga.

Ya, setelah pertarungan sengit dan melelahkan dalam kompetisi merebut hati rakyat di Pilpres 2019, dua tokoh sentralnya, Bapak Jokowi dan Bapak Prabowo akhirnya bertemu secara langsung dalam suasana yang cair dan hangat.

Salut untuk para pihak yang bekerja keras dalam senyap untuk mewujudkan hal ini.

Pemilihan lokasi pertemuan yang tidak biasa, yakni di Stasiun MRT Lebak Bulus, Jakarta untuk bersama-sama naik MRT dan ditutup dengan makan siang bersama tentu sangat diharapkan dapat menurunkan tensi hangat yang masih menyelimuti perasaan mayoritas para pendukung kedua tokoh bangsa ini.

Di luar alasan bahwa Bapak Prabowo belum pernah mencoba moda transportasi baru kebanggaan Indonesia itu, ada nilai-nilai simbolik yang terlihat dalam pertemuan tersebut.

Kereta MRT yang canggih, cepat, dan modern sebagai simbol Indonesia baru, Indonesia yang lebih dewasa dalam menyikapi perbedaan pendapat. Indonesia yang bersiap menghadapi perubahan dan tantangan global. Indonesia yang siap bergerak lebih cepat ke tujuan luhur pendiri bangsa.

Rangkaian gerbong kereta MRT sebagai simbol rakyat Indonesia yang beragam, terdiri dari beraneka suku bangsa, bahasa, budaya, adat istiadat dan agama serta kepercayaan yang bersatu dalam gerbong Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan dasar Pancasila dan UUD 1945 dan semboyan Bhinneka Tunggal Ika, sebagai relnya.

Semua mengarah pada satu tujuan yang sama yakni Indonesia yang adil, makmur dan sejahtera melalui kerja keras semua komponen bangsa yang ada di dalamnya.

Dan tujuan di atas hanya bisa dicapai jika semua rakyat dan juga elit politik tidak lagi saling mencurigai dan menuduh sesama anak bangsa.

Tidak ada lagi tuduhan anti asing dan aseng, diktator, anti Pancasila, pro PKI. Tidak ada lagi tuduhan terjadinya kecurangan yang bersifat TSM (terstruktur, sistematis, dan masif).

Hapus kebencian, gantikan dengan kerelaan dan sikap kedewasaan.

Baca Juga: Akhir Cinta Song-Song Couple, Awal Rekonsiliasi Cebong-Kampret

Pertemuan bersejarah tersebut diakhiri dengan makan siang bersama di salah satu tempat makan di Sudirman yang berlangsung dalam nuansa persahabatan.

Photo credit: CNN Indonesia / Adhi Wicaksono

Di belakang Bapak Jokowi dan Bapak Prabowo dapat kita lihat gambar deretan wayang Punakawan. Sebuah simbol yang menunjukkan komitmen mereka berdua untuk bekerja bagi rakyat, sesuai porsi dan bagian masing-masing. Menunjukkan hidup yang mereka dedikasikan sebagai pelayan masyarakat.

Selamat bekerja dan berkarya, Pak Jokowi dan Pak Prabowo!

Bagi saya pribadi, pertemuan bersejarah di Sabtu pagi itu memberi sebuah pelajaran.

Hidup dalam tuduhan dan kebencian tidak akan mengubah apa pun menjadi lebih baik. Sebaliknya,

hidup dengan tujuan yang jelas akan membawa kita pada hasil yang tidak akan mengecewakan.

Tentunya, tiada hasil tanpa proses. Kita perlu menjalani dan menikmati segala proses yang harus dilalui.

Dan percayalah, pada akhirnya hasil tidak akan pernah mengkhianati proses.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here