Untuk urusan ini, anak muda terkadang justru lupa dengan realitas berkeluarga yang justru ia alami sehari – hari: orang tuanya sendiri, yang bisa bertengkar karena hal – hal remeh, besoknya berdamai, besoknya bertengkar lagi, dan seterusnya.

Jelas itu bukan kehidupan “happily ever after” yang diharapkan, bukan ?

Selibat: Pilihan Realistis?

Kita yang masih lajang, mungkin akan dianggap gila jika mengajukan ide selibat untuk diri kita kepada orang tua atau sahabat. Bagi mereka, itu melawan nilai –nilai budaya lama yang masih hidup di masyarakat kita. Orang harus menikah dan punya anak – kecuali jika mereka penatalayan penuh waktu di Gereja Katolik.

Ada yang pernah berkata “Ada baiknya kita menggumulkan selibat dahulu sebelum berpikir untuk menikah.” Mungkinkah di balik mata kita yang masih tertarik lawan jenis, jauh di dalam hati kita ternyata lebih nyaman hidup selibat ketimbang menikah?

Biasanya, masyarakat kita melihat orang selibat itu dengan dugaan yang sesempit ini: mereka kecewa dengan keluarganya, atau identik dengan pribadi yang egois/

Mungkin sebagian kecewa dengan keluarga yang tak bahagia, tapi ada juga yang punya misi sangat mulia seperti melayani masyarakat pedalaman, menjadi relawan, menyukai kehidupan anti-kemapanan yang umumnya, sangat berat kalau harus dijalani sambil berkeluarga.

Bahkan, jangankan orang yang anti kemapanan, orang yang mapan berlatar belakang pengusaha sukses pun terkadang tidak tertarik menikah. Ia bisa saja lebih tertarik menambah relasi dan sebatas itu saja, hidup pernikahan menurutnya justru akan menghambat potensi dan passionnya. 

Tidak valid jija kita mengatakan orang selibat itu egois. Bagaimana dengan sosok selibat yang terkenal sangat humanis: Bunda Teresa ?

Selibat adalah pilihan logis, realistis, dan patut dipikirkan dengat sangat matang. Seringkali orang lupa bahwa di balik pilihan menjadi penyuka lawan jenis atau malah sesama jenis, ada juga pilihan tidak menikah. Ya, tidak menikah adalah pilihan juga.

Jika tidak Siap Selibat, Jangan Menikah.

Jujur saja, banyak orang tidak bahagia lalu menuntut kebahagiaan setelah pernikahan, mengharapkan “happily ever after” – yang jelas tak pernah ada.

Memikirkan untuk selibat sebelum memikirkan untuk menikah, mengajarkan kita untuk menanyakan kepada diri kita “Apakah kita bisa bahagia tanpa pasangan sekali pun? Mungkinkah kebahagiaan kita justru terenggut ketika nanti menikah?”

Jangan pula menikah dengan alasan ingin membahagiakan orangtua. Apakah orang tua lebih bahagia melihat anaknya menjalani pernikahan yang tidak bahagia ketimbang yang belum menikah?

Berdialog dan berkomunikasi jujur tentang keinginan kita akan lebih baik ketimbang “dipaksa” menikah hanya karena orang tua ingin segera menimang cucu.

Jika kita belum bisa bahagia dengan diri kita sendiri, lebih baik pikirkan ulang untuk menikah, sebelum ketidakbahagiaan kita justru melukai orang yang kelak menjadi pasangan kita.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here