Berkomunikasi dengan anak remaja tidaklah selalu mudah karena mereka sendiri sedang menghadapi perubahan besar yang menyangkut hormon dan emosinya. Anak saya kedua ketika di SMP mulai menampakkan perubahan besar terutama ketika berkomunikasi.

Dulu ia bicara lembut, sekarang mudah marah dan mood yang cepat berubah, sampai saya bilang, “Kok kamu berubah, beda sekali dengan dulu waktu SD.”. Saya pikir ini wajar karena memasuki usia remaja yang “moody”. 

Ia lahir ketika saya tidak siap, tidak merencanakan, dan usia saya tidak lagi muda. Tidak siap karena kami sedang merantau jauh di negera lain dan suami sedang studi lanjut. Saya sempat agak berat hati ketika hamil anak kedua. 

Banyak cerita kudengar tentang akibat kehamilan yang tidak dikehendaki bagi anaknya. Kalau saya, lebih tepatnya adalah kehamilan yang tidak direncanakan. Untuk mencegah efek buruk, saya meminta maaf kepada anakku ketika ia masih di Sekolah Dasar, mungkin kelas 5-6.  Saya pikir masalah selesai.

Canda yang Ternyata Melukai

Ketika ia berada di SMP, saya pernah bercanda dengan teman di mana kedua anak saya juga bersama kami. Saya mengatakan kalau anak ke-2 adalah bonus. Sementara di akhir SMP nya kami bergumul untuk mengirim ia ke sekolah berasrama di luar kota. Saya dan suami berbeda pendapat. Kami konsultasi ke seorang konselor yang tidak setuju dengan rencana kami, katanya anak SMA masih perlu orang tua.  Akhirnya ia tetap bersekolah di kota di mana kami tinggal. 

Akhir-akhir SMP, saya terkejut beberapa kali, saya bicara baik-baik, ia jawab baik, tidak lama kemudian bicara lagi, tiba-tiba dijawab dengan nada tinggi dengan sorotan mata seperti marah. Sampai saya bertanya, “Ada apa? Ditanya baik-baik, kok jawabnya begitu?” Tentu saja ia tidak bisa menjawab, ia sendiri tidak mengerti apa yang terjadi dengannya. Ya sudah, saya pikir ia sedang capek.

Luka Lama Akhirnya Terbuka

Pulang dari suatu kamp sebelum masuk SMA, saya membaca suratnya untuk orang tua. Ia menulis antara lain, “Saya mungkin bukanlah seorang anak yang Papa Mama harapkan. Saya terlalu sering mengecewakan. Itu menyakitkan ketika saya menyadarinya”

3 COMMENTS

  1. Terimakasih banyak untuk sharingnya, Bu. Dari apa yang Ibu tulis, saya baru menyadari betapa bahayanya kata-kata yang tidak tepat. Anak kedua saya memiliki jarak umur 12 tahun dengan yang pertama. Saya dan suami saya sering berkata bahwa anak ini adalah bonus bagi kami, karena kelahirannya di luar rencana kami yang hanya menginginkan satu anak saja. Tetapi setelah membaca tulisan Ibu, saya harus mengganti kata-kata saya untuk menjawab orang yang berkomentar tentang jarak umur kedua anak saya yang cukup besar. Semoga banyak orang lain juga mendapat berkat dari tulisan Ibu.

  2. Tanpa sadar kata2 canda utk anak bisa ditangkap beda, saya jadi diingatkan melalui tulisan ini. Juga perlunya orang tua meminta maaf utk kata2 yang diucapkan yang menyakiti hati anak. terimakasih utk tulisannya bu sangat memberkati

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here