Hujan sedang turun dengan derasnya saat kami memasuki sebuah kedai kopi di tengah kota. Pengunjung tidak terlalu banyak. Setelah memilih tempat duduk yang cozy, saya minta ibu muda itu bercerita. Dengan mata sembab karena menangis terus di mobil, Rosi, sebut saja begitu memulai ceritanya.

“Saya tidak bisa menyalahkan siapa-siapa. Memang saya yang salah karena terlalu cepat mengambil keputusan,” ujarnya sambil terus mengambil tisu di meja.

“Saya mengenalnya waktu sama-sama kuliah di luar negeri,” lanjutnya sambil menyebut sebuah kota yang sangat familiar di telinga saya karena pernah bertugas di sana.

“Teman-teman sudah mengingatkan saya bahwa cowok saya ‘nakal’. Namun saya nekad terus karena dia berjanji untuk tidak melakukannya lagi. Saya tahu dia sudah melakukan free sex dengan pacar-pacarnya yang dulu, tetapi karena janjinya untuk benar-benar bertobat, saya terima dengan tangan terbuka.”

“Kini, setelah saya hamil, dia melakukannya lagi dengan mantan pacarnya. Saya emosi dan meminta cerai. Suami saya langsung mengabulkannya.”

“Kini saya tidak tahu ke mana harus berpaling. Bagaimana nanti kalau anak saya lahir? Orangtua pun sudah tidak peduli karena mereka dulu sangat menentang hubungan kami. Penginnya saya kembali ke luar negeri dan membesarkan anak saya di sana sebagai single mother.”

 

Bukan Hanya Wanita, Pria pun Bisa Cepat Memutuskan Relasi

Malam hari di sebuah mal. Cowok itu menemui saya dengan wajah lesu dan rambut kusut, padahal, wajahnya cukup ganteng di usianya yang sudah menginjak kepala tiga. “Sudah tiga bulan ini saya tidak bisa tidur dengan nyenyak, Pak Xavier,” ujarnya memulai pembicaraan.

“Apa yang sudah saya perjuangkan selama 6 tahun berakhir hanya dalam tempo kurang dari 6 menit,” tambahnya.

“Saya mengenal pacar saya karena sama-sama kuliah bahasa di Tiongkok setelah saya menyelesaikan kuliah dari di Amrik. Sejak di sana kami sudah sama-sama merancang bisnis makanan sehat. Ketika pulang ke Indonesia, hanya saya yang memperjuangkan bisnis itu sampai jalan. Setelah itu saya serahkan ke adik saya untuk mengelolanya sedangkan saya mendatangkan barang-barang dari Tiongkok untuk saya pasarkan di sini. Saya sudah membeli apartemen untuk persiapan pernikahan. Namun, karena dia tidak menghargai kerja keras saya dan terus merasa kurang dan kurang, saya minta ‘putus’.”

“Saya berharap dia menahan saya karena sebetulnya di tengah segala kekurangannya, saya masih mencintainya. Ternyata dia langsung menyetujui keputusan kami meskipun kamis udah pacaran selama 6 tahun. Saya gengsi untuk meminta balikan. Lagipula tampaknya dia sudah bisa move on dengan teman barunya.”

Dua kisah yang saya dengar dan kisah-kisah lain sejenis, saya mengambil benang merah agar kita tidak cepat-cepat mengeluarkan kata ‘cerai’ dan ‘putus’.

Penyesalan selalu datang terlambat. Click To Tweet

 

Jadi, sebelum meminta cerai atu putus, pertimbangkan 3 hal ini saja.

 

1. Jangan ambil keputusan di saat hati masih labil

Hati boleh panas, tetapi kepala tetap dingin. Hati-hati menjaga hati karena dari sanalah terpancar kehidupan. Ucapan yang menyakitkan bisa saja membuat hati panas. Jangan biarkan hati yang membara itu membakar otak Anda sehingga hangus dan tidak bisa berpikir jernih. Dinginkan lebih dulu baru diskusikan.

Jangan sampai logika dikalahkan dengan emosi sesaat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here