Click To Tweet

Apakah kita memang lebih parah dari keledai, ketika kita terus menerus mengulang kesalahan yang sama; bahkan bukan hanya dua kali, tetapi berkali-kali, sampai kita sendiri sulit  untuk menghitungnya? 

Tidak sedikit orang yang harus keluar masuk penjara, atau selalu gagal di dalam menjalani relasi yang baik dengan lawan jenis, atau tidak bisa lepas dari dosa yang bahkan sudah disadari, terlalu sering mengecewakan orang bahkan mereka yang dikasihinya, dan masih banyak lagi yang dilakukan orang, yang merupakan kegagalan yang terus berulang.

Ada banyak respon yang bisa kita tunjukkan di dalam menyikapi kegagalan, ketika kita berkeinginan untuk bangkit dan tidak mau mengulang kesalahan yang sama. Adakalanya kita merasa tidak layak dan merasa seolah sudah tidak ada harapan lagi. Ketika perasaan ini sudah memuncak, tidak sedikit dari kita yang ingin segera mengakhiri hidup supaya lingkaran setan kegagalan bisa segera kita hentikan.

Baca juga: Curahan Hati Seorang Gay: Awal Mula Keterlibatan dan Pergumulan dengan HIV/AIDS

Kadang kita berada di sisi yang satunya. Ketika kita sudah sangat lelah berjuang agar bisa hidup benar, akhirnya kita mengasihani diri dan sekaligus membenarkan diri serta menganggap kalau semua yang kita alami ini normal saja dan memang tidak bisa dihindari. Maka kita tinggal membiasakan diri saja, sehingga lama lama juga tidak merasa bersalah lagi.

Namun, sebenarnya bagaimana seharusnya kita meresponi kejatuhan kita yang berulang itu? Inilah 3 jawabannya!

 

1. Kita memang lemah, tetapi bukan berarti tanpa pengharapan

Manusia mana yang tidak pernah salah dan tidak pernah mengalami kegagalan? Kalaupun ada orang yang bebas salah, tentu itu sangat langka. Bukankah ketika kita belajar berjalan, berbicara, naik sepeda, membaca, atau pun menulis, kita pun memerlukan proses jatuh-bangun? Semua kemampuan kita tidak terjadi secara instan, bukan?
Memang kita lemah, tetapi bukan berarti tanpa pengharapan. Click To Tweet
Justru ketika sadar akan kelemahan, kita belajar untuk tidak sombong, tidak menganggap kalau semua hal bisa diselesaikan dengan kekuatan kita. Kesadaran itu juga yang membuat kita meminta pertolongan dan bimbingan dari Tuhan, Sang pencipta dan pemilik kehidupan.ini.  
Baca juga:  Dari Film “A Star Is Born”: Tidak Semua Bakat Bisa Bersinar, Perlu 3 Hal Ini untuk Melahirkan Seorang Bintang
 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here