Namun, bagi kami masalah tetaplah masalah yang harus segera diselesaikan. Bila tidak, maka masalah yang tadinya cuma satu, lambat laun akan beranak-pinak dan membuahkan masalah-masalah yang lainnya lagi.

Kami tak malu menceritakan persoalan rumah tangga kami, tetapi tentunya kami datang bukan kepada sembarang orang, melainkan kepada orang yang kami percayai.

 

2. Acuh Tak Acuh

Sebagian orang beranggapan bahwa masalah akan selesai dengan sendirinya sehingga mereka kurang menaruh perhatian dan bersikap acuh tak acuh ketika dihadang masalah. Click To TweetBagi kami, setiap masalah harus dituntaskan. Bila kami meremehkan, maka sama saja kami telah mengizinkan masalah yang kami hadapi bertumbuh di dalam rumah tangga kami.

 

3. Tidak Mau Berubah

Alasan mendasar lainnya mengapa orang menutup masalah rumah tangganya terhadap orang lain adalah karena ia tidak menginginkan perubahan dalam dirinya. Mungkin ia berpikir bahwa dirinya sudah benar, maka ia tidak perlu berubah. Jika masalah datang di dalam rumah tangganya, bisa jadi dia berpikir bahwa bukan dirinyalah penyebab hadirnya masalah itu. Mungkin pasangannyalah adalah Si Biang Keladinya.
Padahal, setiap kita memang diciptakan dengan keterbatasan-keterbatasan tertentu. Jadi bisa saja kita ini berbuat kesalahan. Jangan merasa diri paling benar. Sebaliknya, tantanglah dirimu agar belajar untuk bersedia memerbaiki kesalahan yang mungkin kau perbuat. Lakukanlah ini demi terjadinya perubahan ke arah yang lebih baik bagi keluargamu.

Baca Juga: Menjaga Pernikahan dari Perceraian, Begini Kata Pakarnya

 

Kesimpulannya: tiga hal inilah yang coba kami lawan agar rumah tangga kami tetap rukun ketika kami menghadapi masalah.

Ya, kami berupaya keras sejak dini, yaitu ketika umur rumah-tangga kami masih sangat muda ini. Kami bersakit-sakit dahulu supaya nantinya bisa berenang-renang ke tepian, dan berjaga-jaga sejak awal agar nasi tidak menjadi bubur.

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here